Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

1 Mar 2013

Tragedi Banjir


Oleh : Hasby Marwahid

                Tayangan televisi pada akhir-akhir ini sedang marak menyuguhkan berita tentang banjir di mana-mana, khususnya di ibukota Indonesia, Jakarta. Mulai dari pusat kota, pinggiran sungai, sampai istana kepresidenan pun tidak luput dilanda banjir. Kondisi tersebut menimbulkan efek yang begitu mendalam, seperti pengungsian, jalanan macet sampai pada aktifitas perekonomian yang hampir “mandek”. Jalannya pemerintahan pun juga terancam terganggu dengan adanya “musibah rutin musiman” ini. Tidak bisa kita pungkiri, banjir selalu dan selalu saja seperti menjadi hal yang wajar terutama di ibukota.
                Kita sering melihat, bagaimana pemerintah selalu mencarikan solusi untuk musibah rutin musiman ini. Pergantian pemimpin dari waktu-kewaktu ternyata belum juga mampu mengurangi sampai menuntaskan tragedi banjir. Kondisi tersebut membuat kita menjadi prihatin atas keseringan musibah yang berdampak dalam berbagai macam aktifitas masyarakat. Hal tersebut menjadi semacam sejarah yang selalu berulang seakan tiada pangkalnya.
                Bila melihat analisa dari beberapa pakar dari beberapa surat kabar akhir-akhir ini, bahwa banjir di Jakarta bukan karena adanya curah hujan yang tinggi. Pasalnya, air bah yang datang lebih di Jakarta disebabkan oleh kawasan resapan di daerah Bogor yang rusak dan kondisi sungai-sungai yang menyempit. Bantaran sungai yang sebenarnya sebagai tempat untuk lewatnya air, beralih fungsi menjadi hunian-hunian manusia. Kondisi ini diperparah dengan daerah resapan air yang berada di Bogor telah rusak dengan berkurangnya pohon-pohon menjadi vila, dan tempat-tempat usaha yang menabrak tata ruang. Jadi jangan heran jika turunya hujan yang tidak terlalu deras pun dapat menyebabkan banjir.
                 Salah satu persepsi umum bahwa banjir berasal dari curah hujan yang tinggi. Hal ini dari satu sisi memang tidak bisa ditolak, namun di sisi lain, banjir juga disebabkan oleh kelakuan manusia itu sendiri. Pendirian bangunan yang tidak memperhatikan etika lingkungan, pembabatan hutan yang membabi-buta, pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya ada beberapa faktor kecil dari permasalahan pelik tersebut.
                Air terus mengalir mencari tempat untuk bermuara menuju tempat yang lebih rendah. Jika tempat tersebut tidak ada, bisa dipastikan air akan mencari jalan lain atau mandek di tempat tersebut, begitu sekiranya konsekuensi logisnya.
                Beberapa solusi banjir sudah banyak digelontorkan dalam berbagai saluran, seperti pendidikan, seminar-seminar, diskusi-diskusi, dan sebagainya. Namun, teori-teori tersebut menjadi utopis jika tidak ada kesadaran dan tindakan nyata untuk lepas dari permasalahan yang menyejarah, yakni banjir. Kesadaran dapat dibangun sejak dini, mulai dari diri sendiri yang sadar. Jika tidak, lihatlah apa yang terjadi di Ibukota sekarang ini. Jika beberapa daerah yang tidak terkena banjir punya maindset seperti di atas, maka permasalan ini dapat sedikit ditanggulangi. Seperti kata pepatah “sedia payung sebelum hujan”, tampaknya masih relevan dalam setiap permasalahan, termasuk banjir. Pasalnya, masalah ini pasti akan terus menghantui manusia kapan pun dan dimana pun.

11 Okt 2011

Nuun. By the pen and what they inscribe





Oleh : Hasby Marwahid
Ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat, apalagi di abad yang serba modern ini. Teknologi ciptaan manusia mengalami kemajuan yang cukup significan dalam segala aspek dan mengisi peradaban manusia, tentu dengan segala dampaknya. Manusia semakin cerdas dan kritis dalam membangun peradaban ini. Dari zaman ke zaman, abad ke abad, silih berganti, dari barat ke timur dan sekarang ke barat lagi (Yunani-Romawi masa klasik, Islam dengan Dinasti-dinastinya dan sekarang Eropa dengan peradabannya).

4 Okt 2011

Kelompok Minoritas Kreatif


Oleh : Hasby Marwahid  
 
Het wonder is gescheld, insulide, de schoone slaaper is ontwaakt. “ suatu kejadian telah terjadi, insulide, putri jelita yang tidur itu telah bagkit” (Mr. Conrad Theodore van Deventer)

              Toynbee yang bernama lengkap Arnold Joseph Toynbee lahir di London, Inggris pada tanggal 14 April tahun 1889. Ia merupakan sejarawan besar yang menulis buku monumental yang mengulas tentang peradaban manusia, A Study of history sejumlah 12 jilid antara tahun 1934-1961 yang menuliskan tentang sebuah metahistory yang ada dalam peradaban yang mencakup kemunculan, pertumbuhan dan kehancurannya. Toynbee merupakan kemenakan dari seorang sejarawan terkenal Arnold Toynbee, di mana namanya dengan sang paman sering salah digunakan karena kemiripan nama. Toynbee memperkenalkan sejarah dalam kaitan dengan challenge-and-response. Peradaban muncul sebagai jawaban atas beberapa satuan tantangan kesukaran ekstrim, ketika "minoritas kreatif" yang mengorientasikan kembali keseluruhan masyarakat. Minoritas kreatif ini adalah sekelompok manusia atau bahkan individu yang memiliki "self-determining" (kemampuan untuk menentukan apa yang hendak dilakukan secara tepat dan semangat yang kuat). Dengan adanya minoritas kreatif, sebuah kelompok manusia akan bisa keluar dari masyarakat primitif.
              Menarik setelah membaca tentang teori yang dipaparkan oleh Toynbee ini, kemudian kalau dikorelasikan dengan sejarah Indonesia, terutama sejak awal abad ke 20. Dalam metode perjuangan yang sudah bisa dikatakan modern. Artinya, jika kita bandingkan dengan abad-abad sebelumnya terutama terletak dalam penggunaan “akal dan okol”. Ternyata kekuatan otak lebih maju daripada hanya dengan otot saja. Akan tetapi dalam melihat hal ini harus balance, karena dalam perjuangan (revolusi_red), tidak hanya otak saja, tetapi gerakan nyata juga harus ada. Akal untuk berfikir, menyusun strategi dan otot untuk bergerak mengaplikasikan hasil dari proses kerangka berfikir.
Masa-masa perlawanan fisik berubah keperlawanan non-fisik. Senjata tidak lagi menjadi panglima. Golongan intelektual mulai bermunculan lewat sistem bentukan pemerinah kolonial Belanda sendiri. Politik etis yang timbul karena kritikan dari kaum-kaum kritis di Belanda, seperti C. Th. Van Deventer yang dimuat dalam majalah The Gids tahun 1899, berjudul Een Ereschuld (Debt of Honour) atau hutang kehormatan. Politik etis mencakup tiga hal (trias), yaitu irigasi, migrasi, edukasi. Secara tekstual memang bertujuan mensejahterkan pribumi, tapi dalam aplikasinya tidak jauh-jauh dari kepentingan yang diusung oleh kolonial Belanda sendiri. Misalnya dalam bidang pendidikan, hal ini bertujuan untuk menciptakan pegawai-pegawai yang bekerja untuk kepentingan kolonial, seperti menciptakan juru tulis, pangreh praja, juru ketik, controlir perkebunan dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam perjalanan watu, dengan adanya pengkotak-kotakan di dalam sistem pendidikannya, yaitu antara sekolah untuk bangsa Belanda (Eropa), Cina, Arab, dan Pribumi ternyata menjadi titik balik bagi sejarah Indonesia.
Lulusan dari sekolah bentukan Belanda ini sebagian ada yang menjadi intelektual-intelektual yang kritis. Sebut saja seperti Sutomo, Wahidin Sudiro Husodo, Cipto Mangkusumo menjadi penggerak awal perjuangan teknik baru (modern). Perjuangan dimulai dengan mendirikan organisasi, partai, pers dan sebagainya. Hal ini juga ada dikalangan ulama, dan kaum pribumi lainya seperti KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya dan HOS Cokroaminoto dengan Sarekat Dagang Islamnya. Golongan intelektual kritis minoritas ini mulai bermunculan di balik ribuan penduduk pribumi yang masih berkutat dalam kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berjuangan atas asas atau metodenya masing-masing, berusaha mensejahterkan masyarakat dan menentang praktik-praktik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Masa ini sering disebut dalam Sejarah Indonesia sebagai masa-masa “Pergerakan Nasional”.
Mereka berjuang menegakkan hak-hak yang telah dirampas oleh pemerintah kolonial Belanda. Perjuangan dengan segala cara lewat politik, diplomasi dan sebagainya akhirnya membuahkan hasil. Walaupun kadang terdapat konflik-konflik intern yang tidak dapat dihindarkan, seperti perbedaan asas perjuangan (non-cooperasi vs cooperasi), masalah idiologi dan sebagainya. Semisal dalam perkembangan selanjutnya, muncul seperti Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Hasyim Asyari dan sebagainya. Para intelektual minoritas itu memang dalam perjalanannya dapat merubah bangsa ini. Seiring dengan berjalannya zaman yang terus bergerak mendatangkan situasi-situasi baru. Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia saja, akan tetapi di belahan bumi manapun, keberadaan dari para “kaum kreatif” minoritas ini yang pada akhirnya merubah suasana bangsa mereka masing-masing. Kejadian dibeberapa tempat di belahan bumi ini, selalu ada dampaknya baik di suatu tempat ke tempat lain. Jadi peristiwa-peristiwa itu menjadi serangkaian acuan untuk bergerak mengikuti teori dan pola masing-masing.
Kita tahu, bahwa sekarang jaman semakin maju, IPTEK semakin berkembang, dan disisi lain permasalahan semakin kompleks. Pertarungan pemikiran, ide-ide, benturan peradaban tidak bisa dipungkiri. Khususnya untuk Indonesia, kita merindukan munculnya para “kaum minoritas kreatif “ini yang nantinya akan membawa bangsa ini ke ranah yang SEMAKIN baik, karena mayoritas manusia dimanapun berada pasti menginginkan keadilan, kedamaian, kesejahteraan, dan sebagainya. Maka dari itu, kalau memengok kembali sejarah pergerakan nasional dulu, mereka berhasil membawa bangsa ini menuju ke pintu gerbang kemerdekaan, dan sekarang kita kita membutuhkan orang-orang yang lebih bisa membawa menuju kemerdekaan yang lebih merdeka dalam segala aspek.
Pemikiran pribadi, setelah sekian lama berkutat dengan buku-buku sejarah indonesia ini. Ternyata seperti yang dikatakan Cicero ; HISTORIA MAGISTRA VITAE, bahwasanya sejarah adalah guru kehidupan. Maka dari itu masa lalu itu selalu aktual, tinggal bagaimana kita mengaplikasikan masa lalu di masa kini. Semoga kita tidak terjebak dalam hal-hal yang terjadi di masa lalu (introspeksi). Yang terpenting bukan bagaimana belajar sejarah, tapi bagaimana belajar dari sejarah.
Munggur, 06 Maret 2011

Hedonisme dan Kaum Remaja

Oleh : Hasby Marwahid
Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi. (HR. Bukhari)
Anak Adam berkata: "Hartaku... hartaku..." Nabi Saw bersabda: "Adakah hartamu, hai anak Adam kecuali yang telah kamu belanjakan untuk makan atau membeli sandang lalu kumal, atau sedekahkan lalu kamu tinggalkan." (HR. Muslim)
Apa yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada banyak tetapi melalaikan. (HR. Abu Dawud)
Media memang menyuguhkan beberapa hal informasi, seperti berita politik, social, ekonomi  dan lain sebagainya. Seperti juga penawaran iklan tentang berbagai produk yang secara sadar maupun tidak telah membius masyarakat. Kaum remaja yang masih diliputi jiwa yang labil  menjadi sasaran utama para produsen produk-produk terkenal ini. Tidak mengherankan jika budaya konsumtif yang sebelumnya sudah melekat dalam diri bangsa ini dikuatkan lagi dengan budaya hedonisme. Globalisasi dalam segala aspek menjadi magnum opusnya (cikal-bakal_red). Siklus kehidupan yang seperti ini seakan menjadi suatu pola baru dan gaya hidup baru. Hedonism sendiri adalah pandangan yang menganggap kesenangan da kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup. Sebuah kebiasaan yang ternyata realitanya menghancurkan tatanan masyarakat yang ada. Coba lihat kesenjangan social yang terjadi dimana-mana sudah menjadi fenomena yang wajar. “Si kaya semakin kaya, si miskin semakin miskin”, begitulah ungkapannya. 

Kemunculan budaya hedonism ini terjadi tanpa kita sadari seiring dengan gerak zaman yang semakin modern. Gaya hidup yang glamor semakin digandrungi oleh para remaja, seakan ada istilah “ga style itu ga zaman gan !!”. Mereka-mereka yang sudah tergila-gila dengan budaya konsumtif akan rela melakukan apa saja demi memenuhi hasratnya. Seperti perburuan akan fashion terbaru, jam tangan merek ternama, sepatu, dan bahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki pun tak luput menjadi saksi bisu budaya ini. Keinginan hidup seperti borjuis memang menjadi daya tarik tersendiri, seperti Raja atau bangsawan pada masa lalu. Pada masa itu prestise sangat mempengaruhi terhadap penilaian masyarakat, tentang statusnya, kemewahannya dan tentunya kekuasaan yang sedang ia emban. Raja, bangsawan dan rakyat pun saling berlomba menunjukkan ciri khas masing-masing, dalam hal budaya tentunya. Seorang raja tentunya identik dengan kemewahan yang bergelimang, dia punya budaya sendiri yang kebanyakan sering ditiru oleh kelas bawanya entah bagaimana pun caranya.

Keinginan menjadi yang terbaik, be the best, memang hal yang bagus, akan tetapi jika  selama masih diterima oleh logika. Terkait dengan budaya hedonism ini tidak kita pungkiri, mereka berlomba-lomba menjadi number one. Hal tersebut sebenarnya dapat dikikis apabila remaja mau berpikir logis dan rasional terhadap gencarnya iklan dan globalisasi zaman yang semakin modern. Sadar terhadap trik dan intrik politik yang dimainkan oleh para kaum kapitalis pada umumnya dan para investor secara khusus sebagai pemasang iklan yang mempengaruhi konsumsi public. Remaja adalah masa dimana pemikiran logis, rasoinal dan juga realistis kadang belum begitu bermain. Kesenganan dan kenikmatan hidup seperti yang dianut kaum hedonis memang menggiurkan. Perlawanan terhadap pola pikir public menjadi kunci utama, sebab budaya ini (hedonism) sudah memasyarakat. 

Dapat sedikit ditelisik berbagai factor penyebab kemunculan budaya hedonism.  Pertama adalah sikap Individualisme atau sikap egois yang tinggi. Adanya sikap ini wajar munculnya karena manusia adalah makhluk invidu tapi bersosial. Maksudnya manusia itu mempunyai pola pikir individualistis, namun mereka tidak dapat hidup sendiri. Mereka bersosial akan tetapi hanya dengan keluarganya, komunitasnya, golongannya dan sebagainya. Adanya sikap ini membuat para penikmat budaya hedonisme membelanjakan uangnya untuk kepentingan sendiri, tidak untuk bersosial. Hal ini adalah penyebab semakin membengkaknya jurang antara si kaya dan miskin. “duit-duit gue, terserah dong mau gue apain”, ucap seorang hedonis seraya menyingkiri pengemis di depan sebuah pusat perbelanjaan.

Penyebab kedua adalah sifat psikologi dari remaja. Maksudnya mereka yang memiliki kekurangan dalam berbagai hal, maka dari itu muncul keinginan untuk menutupi kekurangannya supaya terlihat lebih dengan hal tersebut. Misalnya saja bersaing dalam hal berpakaian. Akan tetapi sebab kedua ini tidak mutlak begini, style yang sedang berkembang pada saat itu juga mendorong untuk segera mengikutinya. Selain itu perasaan cinta terhadap lawan jenis, membuat para remaja tampil extraordinary, dan dapat tampil lebih matching. Hal yang terakhir adalah sikap materialisme yang tinggi. Perasaan cinta pada uang dan materi yang berlebih membuat para remaja membelanjakan uangnya sesuka hati. Motifnya hanya supaya demi tercapainya status sosial yang tinggi dan membuat mereka sedikit dihargai oleh masyarakat disekitarnya.

Kebuadayaan hedonisme yang sudah menggejala dan mengakar begitu kuat membuat pemerintah dan masyarakat semakin prihatin. Ketakuatan tumbuhnya budaya hedonisme ini juga dirasakan oleh para pendidik. Himbuan-himbuan dari berbagai media, baik elektronik maupun cetak telah sering dipaparkan untuk meminimalisir budaya hedonisme ini. Adanya ketakutan dari berbagai pihak, seperti pemerintah dan sekelompok kalangan ini memang cukup berdasar. Pasalnya, budaya tersebuat sampai saat ini entah sadat atau tidak, hal ini sudah membudaya. Akan tetapi jumlah prosentase remaja yang tidak sadar adalah sebagian besar, dengan pertimbangan salah satunya banyaknya produk-produk yang laku keras, konsumen utamanya tidak lain adalah remaja.

Keinginan untuk merubah tatanan masyarakat yang sudah terlanjur skeptic dengan keadaan ini membuat mereka sulit untuk menerima perubahan lain. Hedonism sudah menjadi semacam kultur masyarakat Indonesia, termasuk para remajanya. Jiwa-jiwa remaja yang ingin selalu cederung tampil lebih baik dalam segala hal termasuk gaya yang tampak, style. Apakah mungkin jika para remaja tersebut tiba-tiba tersadar, kemudian berpaling dari budaya hedonisme yang sudah melekat ?.  Entah sampai kapan jiwa dan perilaku ini akan menguasai mereka? Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita mau setidaknya mengikis hal ini, dan tidak menutup mata akan lingkungan sekitar yang ternyata masih membutuhkan bantuan kita. Faktanya banyak sekali celah-celah kehidupan ini supaya kita dapat berfikir rasional intelektual, bertindak positif sebagai pribadi yang religious dan kreatif. Berpegang teguh pada tali agama dan mencoba  diaplikasikan secara nyata. Namun, memang harus kita pahami dan tidak bisa kita pungkiri, keberadaan kaum hedonis ini memang ada dan nyata. Mau tidak mau kita pun juga memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang kita kehendaki, tapi tentu dengan segala konsekuensinya. Siapa yang menanam, dia menuai ! ! 
“Hidup ini bukan tentang mereka yang selalu ada untuk membantumu, namun tentang kamu yang belajar mandiri dan membantu orang lain” (M.Syaifuddin)


Munggur, 15 September 2011
.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: youremail@gmail.com

Our Team Memebers